Ini adalah kisah seorang anak kecil yang rindu untuk bisa melihat dunia tempat ia dilahirkan dan tinggal, ia mengalami kebutaan sejak lahir karena ada masalah pada kedua bola matanya
Namanya nina, anak gadis semata wayang dari janda yang ditinggal mati suaminya 17 tahun yang lalu. Kini mereka hanya tinggal berdua dan hidup sangat sederhana karena sang ibu hanyalah penjual jajan gorengan didepan rumah mereka
Menjelang sore kala itu seperti biasa sang ibu ditemani putrinya nina duduk menunggu pembeli yang datang, nampak nina dipangkuan ibunya begitu nyaman sekali, namun raut wajah yang diselimuti gejolak ingin tahu seorang anak nampak jelas tersirat
Suara gadis kecil itupun akhirnya meluap lirih memecah keheningan yang sore itu memang agak sepi dari pembeli
Nina : Ibu, seperti apakah Tuhan itu?
Ibu : [menatap wajah nina sambil mengelus rambutnya, menjawab] Adik bisa merasakan angin tidak? Karena seperti itulah Tuhan. Angin tidak terlihat namun bisa dirasakan. Begitu juga Tuhan memang tidak terlihat, tapi pemeliharan-Nya nyata atas hidup kita.
Nina : Tapi aku kepingin ketemu Tuhan, ibu!
Sang ibu sebenarnya tahu apa yang hendak disampaikan putrinya ini, dengan sabar dan kasih sang ibu menjawab lagi
Ibu : Adik, sekalipun kita tidak bisa melihat kehadiran Tuhan, namun kita bisa merasakan kasih-Nya. Pemeliharaan dan penyertaan Tuhan itu nyata. Dia akan terus berkarya dalam hidup kita. Tuhan ingin menjadikan kita kepala dan bukan ekor. Tuhan akan membawa kita terus maju. Milikilah iman yang selalu percaya kepada Tuhan.
Nina : Tapi aku ingin mataku sembuh aku ingin bisa melihat, ibu!
Ibu : [dengan meneteskan air mata haru ibu menjawab] Adik selalu ingat ya! Kalau iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat