Sore itu adikku telpon kasih khabar kalau dia gak bisa jemput aku pulang
kerja, repot masih ada kerjaan yang gak bisa ditinggal dan ditunda. Aku jawab
"okey adikkyu"
Akupun langsung cari teman yang bisa ditebeng'i sampai terminal angkot,
akhirnya dapat juga teman yang rumahnya memang searah ke terminal
Singkat cerita aku sampai nich di terminal dan aku langsung menuju angkot
jurusan ke rumahku
Kalian pasti tahu dong yang biasa naik angkot, tradisinya kalau angkot belum
penuh penumpang gak bakalan itu angkot berangkat
Bersyukur karena angkot yang aku tumpangi ternyata cuma kurang 1 [satu]
penumpang. Dan gak butuh waktu lama seorang perempuan yang akan menjadi
penumpang pelengkap pun datang, sebelum naik dia menghampiri sopirnya dulu dan
bertanya :
Pnp : [baca dengan logat sengau] mpak, inyi yuruan henjera hya?
[pak ini jurusan ke kenjeran ya?]
Sopir [hanya diam ndak bereaksi dengan pertanyaan perempuan
tersebut]
Pnp : [baca dengan logat sengau] mpak, himana si haya hanya hiem
haya
[pak, gimana sich saya tanya diem aja]
Karena sudah 3 [tiga] kali tanya tapi gak dijawab dan merasa dicuek'in sama
sopir, penumpang perempuan yang bicara sengau ini langsung buang muka dan
marah lalu pergi gak jadi naik [ehm, bakal lama lagi pikirku], tapi syukur
sopir akhirnya berangkat meski kurang 1 [satu] penumpang
Di tengah perjalanan akupun bertanya ke sopir kenapa dia gak mau jawab
pertanyaan penumpang tadi [maklum kepo]
OMG ternyata aku juga dicuekin, jadi kusimpulkan saja myngkin sopir ini tuli.
Ternyata salah, si sopir ternyata mo menjawab pertanyaanku
Sopir : [baca dengan logat sengau] haya u huan hak mo hawab, henti halo
haya hawab hifihir haya hledek
[saya itu bukan gak mau jawab, nanti kalau saya jawab dipikir saya meledek]
Me : Waduh